Mengenal, Mengetahui, Memahami, Memutuskan

Saya mengikuti berbagai macam manuver dan juga pendapat politik yang terjadi disekitar saya melalui media elektronik, cetak dan rumor atau berita dari sesama teman saya. Saya tidak mengerti mengapa para calon presiden tidak menunjukan dan meyakinkan pada calon pemilih dengan cara menunjukan kelebihan dirinya atau visi misi yang diusungnya? Mengapa semua calon berusaha sekuat tenaga untuk menjatuhkan lawan politiknya? Mengapa ada pihak yang menyerang dan mencari2x kesalahan pesaing politiknya disegala kesempatan yang ada. Pasangan yang satu mengatakan yang buruk dan menjatuhkan pasangan yang lain. Pasangan yang lain mengatakan bahwa suatu pasangan sangat lambat dan tidak sistematis.

Apakah benar informasi yang kita terima? Apakah kita akan menelan bulat2x tanpa mencari kebenaran atas segala jenis informasi yang masuk ke telinga kita? dibawah ini adalah kutipan salah satu pertanyaan dari wawancara dengan presiden pada Vivanews.com. Semoga bisa membantu kita dalam mengenal, mengetahui dan memahami apakah yang menurut kita benar sehingga bisa memutuskan untuk memilih salah satu calon presiden pada bulan juli mendatang.

Wawancara Khusus Presiden Yudhoyono:  “Jangan Rendahkan Rakyat Kita”

Karaniya: Ada kritik dari sejumlah pihak tentang komposisi stimulus fiskal yang dirancang pemerintah. Dipertanyakan kenapa sebagian besar dialokasikan di wilayah pajak dan untuk sektor industri, sementara untuk pertanian dan pedesaan kecil sekali. Tanggapan Bapak Presiden?

Presiden: OK. Mari kita lihat strukturnya dulu. Di luar stimulus ada juga anggaran yang tidak sedikit, ratusan triliun rupiah untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat, untuk memastikan ekonomi kita bergerak. Di samping itu ada program-program pro-rakyat yang juga terus berjalan. Jadi, jangan kita anggap untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat, kehidupan petani, seolah-olah hanya dengan stimulus. Mari kita lihat datanya supaya akurat.

Total stimulus adalah Rp 73,3 triliun. Memang ada komponen insentif pajak. Tapi di situ ada penurunan tarif pajak penghasilan orang pribadi sejumlah Rp 13,5 triliun. Mereka langsung mendapat keringanan penurunan pajak. Ada lagi peningkatan pendapatan tidak kena pajak sejumlah Rp 11 triliun. Yang penghasilannya di bawah Rp 15 juta setahun, tidak kena pajak. Ada lagi kaum buruh dan karyawan yang penghasilannya di bawah Rp 5 juta disubsidi, tidak kena pajak. Lantas, ada program PNPM (Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat) bagi masyarakat desa, ada kredit usaha rakyat dengan tambahan dana Rp 1 triliun. Kemudian untuk petani, ingat ada subsidi benih dan pupuk untuk petani. Kita keluarkan Rp 27 triliun. Ini pertama kali dalam sejarah. Jadi, akumulasi dari semua itu, meliputi semua sektor. Juga ada untuk pembangunan infrastruktur. Ini untuk meningkatkan ekonomi lokal, menciptakan pekerjaan. Itu juga untuk rakyat, bukan untuk pemborong.

Jadi, mari berpikir realistik, pahami betul struktur dan policy ini, mengerti betul angka-angkanya, dengan demikian kok tidak beranggapan seolah-olah ini hanya pajak. Sekali lagi, jangan kita terkecoh, seolah-olah kita mengatasi krisis ini hanya dengan stimulus. Progam lain juga terus berjalan. Ini memang tugas berat. Tidak ada satu pun kepala negara, sahabat-sahabat saya sewaktu bertemu kemarin di London, yang senyumnya lebar. Semua menahan senyum.

Wawancara lebih lengkap disini.

Advertisements