Sintong Panjaitan dan LB Moerdani

Beberapa waktu yang lalu gw beli buku yang judulnya Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando, Sintong Panjaitan. Buku ini nyritain tentang perjalanan karier Sintong Panjaitan dari pertama kali lulus dari AMN tahun 1963.  Awalnya gw tau tentang buku ini swaktu ngebaca brita2x di internet Tentang sepak terjang Prabowo Subianto di tahun 1998. Nah akhirnya gw beli buku ini setelah sering dikutip beberapa bagian buku ini di brita tersebut.

Yang gw suka dari buku ini adalah cara penulisan penulis Hendro Subroto yang menyenangkan untuk dibaca. Alur cerita yang ngebawa gw serasa sedang berada di tempat kejadian dan juga sering mengutip kata-kata dan pendapat para tokoh yang ada disana yang sudah tentu para perwira-perwira dari RPKAD -> Kopassandha -> Kopassus. Awalnya gw pikir isinya melulu tentang kehidupan militer yang sangat disiplin, selalu serius dan selalu tunduk terhadap perintah atasan. Yang selalu gw kagumin dari cerita perang adalah pemikiran yang ada pada komandannya. Setelah membaca buku ini, gw akhirnya nyimpulin bahwa Sintong Panjaitan adalah seorang perwira pemikir, ahli strategi, Memperhatikan bawahan, Berpandangan luas dan jauh kedepan. Pendapat2xnya briliant, dia orang yang tegas dan kalau gw liat dari wajahnya cukup sangar tapi dihormati oleh bawahannya. Ya itulah gambaran singkat tentang Sintong Panjaitan di karir militernya. Yang paling gw suka adalah hubungan Sintong Panjaitan dan LB Moerdani yang diceritakan beberapa kali dan bikin gw ketawa.

LB Moerdani merupakan atasan Sintong. Dia digambarkan sorang perwira yang tegas dan memiliki wajah angker dan menakutkan para bawahannya. Ada beberapa percakapan yang gw inget dan bikin gw ketawa geli sewaktu ngebacanya.

Yang pertama adalah sewaktu pengen dimulai operasi untuk membebaskan sandra dari para teroris yang ngebajak pesawat garuda ‘Woyla’.  Setelah melakukan beberapa kali latihan dan pasukan pengen diberangkatkan ke thailand dengan pesawat, pasukan dari Kopassandha (Kopassus) diberikan senjanta pengganti H & K dari sebelumnya AK 47. Kemudian Sintong meminta izin agar diberi kesempatan untuk mencoba senjata tersebut kepada LB Moerdani. Tapi LB Moerdani menolaknya dengan nada marah. Setelah berada dipesawat dan mesin pesawat sudah dinyalakan,  Sintong menghampiri LB Moerdani dan mengatakan kepadanya: “Saya ingin operasi berhasil Jendral. Tapi saya tentu akan berangkat jika bapak memerintahkan. “Kemudian LB Moerdani bangun dan  menuju kokpit dan kemudian mesin pesawat mulai berhenti. LB Moerdani kemudian memerintahkan dengan nada marah ke Sintong dan pasukannya. “Hei batak, turun kamu dari pesawat. Bawa pasukan kamu”. Lalu mereka diberikan kesempatan menembak dan ternyata memang macet. 😀 Disinilah kekaguman gw. Meskipun terkenal angker tapi dengan alasan yang ada didalam dirinya, Sintong tetep mengutarakan kepada LB Moerdani tentang niatnya tanpa berkesan menolak perintahnya. Setelah itu beberapa kali disebutkan LB Moerdani menyebut Sintong dengan kata2x “Hei Batak”. 🙂

Beberapa contoh yang muncul adalah:

“Coba ambilkan itu baret merahnya. Nanti marah itu si Batak”  Pak Benny memberi perintah kepada ajudannya ketika akan memberikan baret merah kehormatan ke Sultan Brunei.

“Hei Batak, kenapa kau tidak datang menyambut Suharto?” Tanya Pak Benny sewaktu dia menanyakan kenapa Sintong tidak menjemput Suharto sewaktu ke TimTim.

“Coba kau carikan perwira menengah buat jadi komandan di Paspampres, Tapi jangan orang Batak, dia orang Jawa soalnya” Sewaktu Pak Benny ingin mengambil seorang perwira menengah dari Kopassanda.

Yang gw liat adalah hubungan antara atasan-bawahan yang cukup erat dimana sang atasan meskipun memanggil dengan nama julukan akan tetapi disana tetap menaruh rasa kagum akan pribadi Sintong dan juga sebaliknya rasa hormat Sintong kepada atasannya. Bahkan panglima-panglima ABRI seperti LB Moerdani, Try Sutrisno dan Edi Sudrajat mengatakan bahwa karier Sintong akan bagus dan dia bisa menjadi Panglima ABRI suatu hari nanti.

Ini salah satu buku yang gw rekomendasiin. Selain menceritakan perjalanan hidup, disana juga kita bisa mengetahui keadaan militer sewaktu jaman Pak Harto yang tampak terdiri dari 3 golongan, yang dekat dengan Suharto, yang dekat dengan LB Moerdani dan yang netral. Selain itu ada kisah disekitar konsentrasi pasukan Kopassus di istana negara tahun 1998 atau penculikan para aktivis pada tahun yang sama. Two thumbs up.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: